TULISAN DALAM BLOG INI, JUGA DAPAT DIBACA DI:
20 August 2010
Roster Semester Ganjil SMAN 1 Maniangpajo Tahun Pelajaran 2010/2011
14 August 2010
LKS MEMBUNUH KREATIVITAS
Hampir di setiap sekolah banyak ditemui telah menggunakan buku LKS (Lembar Kerja Siswa) sebagai salah satu refrensi atau bahkan satu-satunya refrensi yang digunakan oleh guru. Padahal LKS sebenarnya hanya merupakan buku rangkuman materi pelajaran yang disertai dengan kumpulan soal, terutama soal-soal pilihan ganda. Teknik penggunaan LKS;guru biasanya memberikan tugas kepada siswa dengan mengerjakan soal-soal yang telah tersedia, dan ketika mereka tidak dapat menjawab, maka siswa akan mencari jawabannya dalam rangkuman materi pelajaran di LKS tersebut. Kegiatan pembelajaran yang menggunakan LKS sebagai satu-satunya sumber belajar akan dapat mematikan daya kritis dan kreatifitas siswa, karena kecenderungan siswa hanya menghafal jawaban. Padahal, selain menghafal siswa semestinya diajak untuk terlibat secara langsung untuk memahami, mendalami isi bacaan (bukan hanya rangkuman) yang kemudian diaktualisasikan dengan fenomena yang terjadi di lingkungan mereka, sehingga siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam memecahkan problem yang terjadi di lingkungan sekitar.
Sebagian besar buku LKS hanya menyajikan rangkuman materi yang berupa poin-poin penting saja, bukan suatu bacaan yang lengkap. Dengan model ini, siswa diibaratkan hanya dijejali dengan teori dan informasi saja, tanpa diberi kesempatan untuk mengevaluasi dan menyimpulkan sendiri materi pelajaran tersebut. Model rangkuman seperti ini mungkin saja baik bagi siswa yang sudah terlebih dulu membaca materi pelajaran yang ada di dalam buku teks. Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa banyak sekolah – terutama sekolah negeri – yang menjadikan LKS ini sebagai satu-satunya buku pelajaran. Dengan demikian, melalui bacaan yang berupa rangkuman materi tersebut dalam LKS tersebut, kesempatan siswa untuk membaca kritis tidak tersedia. Bacaan-bacaan seperti itu hanya mengajarkan kepada siswa untuk menghafalkan fakta-fakta yang ada tanpa memberikan kesempatan untuk memikirkannya lebih jauh. Kondisi ini mirip dengan apa yang dituliskan oleh Raths dkk pada tahun 1967 yang menyatakan bahwa “…memorizati on, drill, homework, and the quiet classroom were rewarded, while “…inquiry, reflection and the consideration of alternatives were frowned upon” (Carr, 1990). Berkaitan dengan model soal pilihan ganda yang terdapat dalam buku LKS, badan American Education Reform pada tahun 1991 menyatakan bahwa soal-soal pilihan ganda tidak dapat digunakan untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi, kemampuan problem solving, kreativitas, dan sikap inisiatif. Jenis soal pilihan ganda hanya dapat melatih kemampuan berpikir tingkat rendah seperti menghafal (Lynn, et al, 1991. Pada tataran inilah, kami ingin mengatakan bahwa LKS cenderung mengabaikan aspek psikomotorik.
Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian harus mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan). . Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara eksplisit Pada umumnya penilaian yang dilakukan oleh pendidik lebih menekankan pada penilaian ranah kognitif. Hal inilah yang terjadi pada pola pembelajaran yang terpusat hanya pada LKS.
Oleh sebab itu perlu diadakan pola pembelajaran yang efektif dan komperhensif (kognitif, psikomotorik dan afektif). Berkaitan dengan psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Buttler (1972) membagi hasil belajar psikomotor menjadi tiga, yaitu: specific responding, motor chaining, rule using. Pada tingkat specific responding peserta didik mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, (yang dapat didengar, dilihat, atau diraba), atau melakukan keterampilan yang sifatnya tunggal. Pada motor chaining peserta didik sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi satu keterampilan gabungan. Pada tingkat rule using peserta didik sudah dapat menggunakan pengalamannya untuk melakukan keterampilan yang komplek.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa siswa tidak hanya dituntut pandai menjawab soal-soal LKS tetapi mereka dapat berpikir logis, menganalisis dan membandingkan, serta mempertanyakan dan mengevaluasi (Raths et al, 1967). Ketika membaca suatu teks, siswa harus dilatih untuk membaca secara kritis. Membaca secara kritis didefinisikan sebagai belajar mengevaluasi dan menyimpulkan isi suatu bacaan, kemudian dapat menkontekstualisasikan dengan cara memecahkan problem-problem yang terjadi di sekitar masyarakat.
Salah satu metode mengembangkan ranah psikomotorik adalah dengan meningkatkan kemampuan membaca kritis ya’ni dengan menyediakan bahan bacaan seperti koran, majalah, dan artikel di dalam kelas (Carr, 1990). Dengan membaca media tersebut, siswa akan dilatih untuk menjadi pembaca yang mempertanyakan isi dari bacaan. Siswa akan membangun argument-argumennyanya sendiri untuk kemudian disampaikan dalam diskusi kelas.
SAMBUTAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA PADA PERINGATAN HARI PRAMUKA KE 49 TAHUN 2010 14 AGUSTUS 2010
Kakak-kakak Ketua Mabida dan Mabicab Gerakan Pramuka,
Kakak-kakak Pimpinan Kwarda, Kwarcab dan Kwarran Gerakan Pramuka,
Kakak-kakak Pelatih dan Instruktur Gerakan Pramuka,
Kakak-kakak Pembina Gugusdepan,
Adik-adik Pramuka yang saya banggakan,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Salam Pramuka,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul
bersama pada hari ini dalam keadaan sehat walafiat untuk memperingati
Hari Pramuka ke 49 pada tanggal 14 Agustus 2010.
Selaku Pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, perkenankanlah saya
pada kesempatan yang berbahagia ini menyampaikan ucapan Selamat Hari
Pramuka ke 49 kepada segenap keluarga besar Gerakan Pramuka di manapun
berada.
Semoga peringatan Hari Pramuka kali ini dapat mendorong Gerakan
Pramuka untuk lebih meningkatkan kontribusinya dalam upaya membentuk
karakter kaum muda yang baik sebagai calon pemimpin bangsa yang handal
pada masa depan.
Kakak-kakak dan adik-adik sekalian yang saya banggakan,
Meskipun data lengkap tidak dimiliki, namun harus diakui sejak
beberapa tahun terakhir ditemukan gejala semakin lunturnya semangat
dan rasa kebangsaan di kalangan kaum muda yang dapat dilihat antara
lain dari rendahnya solidaritas sosial, menipisnya semangat bela
negara serta semakin berkurangnya pemahaman kaum muda terhadap sejarah
dan nilai-nilai budaya bangsa.
Bersamaan dengan itu ditemukan pula pelbagai masalah yang terkait
dengan semakin menurunnya akhlak dan pekerti kaum muda, seperti
menipisnya sifat kejujuran, kurangnya sikap santun terhadap orang yang
lebih tua, kurang menghargai pendapat orang lain, penyelesaian masalah
dengan cara kekerasan, ingin menang sendiri serta tidak menerima
kekalahan.
Ditemukannya dua masalah ini tentu saja tidak meggembirakan. Sejarah
telah menunjukkan bahwa keruntuhan suatu bangsa dimulai dengan
menurunnya semangat dan rasa kebangsaan serta semakin lunturnya akhlak
dan pekerti kaum muda.
Rapuhnya sendi-sendi yang menopang sebuah bangsa ini sangat terkait
dengan ketidak berhasilan kita melaksanakan upaya pembentukan watak
dan karakter kaum muda. Padahal telah sama diketahui bahwa kaum muda
sebagai bagian dari komponen bangsa sangat rentan terhadap pelbagai
perubahan yang terjadi pada tata nilai dan budaya bangsa.
Untuk mengatasi masalah yang amat merisaukan ini, menjadi sangat
penting peranan pendidikan kepramukaan sebagai wadah pembentukan
karakter bagi kaum muda. Dewasa ini Pemerintah memang sedang bekerja
keras melaksanakan pelbagai kegiatan untuk membangun karakter bangsa
guna menjamin keberhasilan pembangunan masyarajat, bangsa dan negara,
yang antara lain mempercayakannya kepada Gerakan Pramuka.
Dalam kaitan ini, saya yakin dan percaya bahwa peranan Gerakan Pramuka
sangat strategis dan penting. Pendidikan nilai-nilai yang
diselenggarakan oleh Gerakan Pramuka akan menjamin terbentuknya watak,
kepribadian dan akhlak mulia kaum muda.
Kakak-kakak dan adik-adik sekalian yang berbahagia,
Revitalisasi Gerakan Pramuka, yang merupakan salah satu pilar
pendidikan bagi generasi muda di Indonesia, telah berjalan selama
empat tahun. Revitalisasi yang tujuan pokoknya adalah untuk
mengaktifkan kembali Gugusdepan sebagai ujung tombak Gerakan Pramuka,
untuk memantapkan eksistensi Gerakan Pramuka serta untuk meningkatkan
fungsi Gerakan Pramuka, dalam empat tahun ini telah memperlihatkan
hasil yang cukup menggembirakan.
Secara bertahap, tetapi pasti, Gugusdepan kembali aktif melaksanakan
kegiatannya. Secara bertahap, tetapi pasti citra dan kinerja Gerakan
Pramuka tampak main membaik. Minat kaum muda terhadap Gerakan Pramuka
tampak makin meningkat. Bersamaan dengan itu pelbagai kegiatan
kepramukaan telah semakin banyak dilaksanakan. Untuk tercapainya visi
dan misi Gerakan Pramuka, yakni mempersiapkan kaum muda sebagai calon
pemimpin bangsa yang memiliki watak, kepribadian dan akhlak mulia pada
masa depan, pelbagai keberhasilan ini tentu harus dapat dipertahankan
dan bahkan semakin lebih ditingkatkan.
Hakekat dasar pendidikan kepramukaan adalah meningkatkan penghayatan
dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan yakni Satya dan Darma Pramuka
oleh seluruh peserta didik, sehingga mereka dapat dipersiapkan menjadi
kader pimpinan bangsa yang tangguh pada masa depan.
Dalam kerangka mempersiapkan generasi muda yang seperti ini,
diperlukan keberadaan dan eksistensi Gerakan Pramuka yang solid. Dalam
kaitan ini ditetapkannya tema peringatan HUT Gerakan Pramuka ke 49
pada tahun 2010 "Satu Pramuka untuk Satu Indonesia" adalah sangat
tepat. Diharapkan dengan tema ini, kita semua dapat menjaga persatuan
dan kesatuan organisasi Gerakan Pramuka. Dapat meningkatkan motivasi
dan bakti kita untuk lebih memajukan Gerakan Pramuka sebagai
satu-satunya wadah pendidikan kepramukaan di Indonesia. Dapat
memperkuat dan memantapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya mitra
Pemerintah yang tangguh dalam mendidik dan membentuk karakter kaum
muda melalui pendidikan kepramukaan untuk Indonesia yang lebih baik
pada masa depan.
Kakak-kakak dan adik-adik sekalian yang saya cintai,
Pada kesempatan memperingati Hari Pramuka ke 49 ini perkenankanlah
saya atas nama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan bagi
perkembangan dan kemajuan Gerakan Pramuka. Ucapan terima kasih ini
terutama kami sampaikan kepada Bapak Presiden dan kepada
bapak-bapak/ibu-ibu Menteri, serta kepada bapak-bapak/ibu-ibu Gubernur
serta bapak-bapak/ibu-ibu Bupati/Walikota di seluruh Indonesia, Tanpa
bantuan bapak-bapak/ibu-ibu semua, tidak mungkin Revitalisasi Gerakan
Pramuka dapat dilaksanakan.
Selanjutnya kepada Pimpinan dan anggota DPR RI kami amat mengharapkan
kiranya dapat membantu mempercepat serta memperlancar proses
pembahasan Rancangan Undang-Undang Gerakan Pramuka sehingga secepatnya
dapat disahkan menjadi Undang-Undang Gerakan Pramuka. Undang-undang
yang memantapkan satu Gerakan Pramuka untuk satu Indonesia.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankanlah pula saya mengajak
kakak-kakak anggota dewasa Gerakan Pramuka untuk lebih merapatkan
barisan dan menyatukan gerak langkah untuk percepatan kemajuan dan
perkembangan Gerakan Pramuka sehingga dapat memberikan kontribusi
positif dalam mendidik generasi muda yang berkarakter.
Kepada para Pimpinan Kwartir Daerah, Kwartir Cabang, Kwartir Ranting
Gerakan Pramuka dan para Pembina Pramuka di seluruh Indonesia saya
menghimbau untuk kiranya kita dapat secara bersama-sama meningkatkan
kualitas gugusdepan sebagai wahana pendidikan karakter bangsa.
Kepada adik-adik anggota Pramuka di seluruh Indonesia, saya
menyampaikan rasa bangga. Sangatlah tepat adik-adik memilih Gerakan
Pramuka sebagai kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, karena mengikuti
sekolah formal saja tidak cukup mengingat sangat terbatas waktu untuk
mempelajari berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang akan menjadi
bekal hidup dikemudian hari. Untuk hasil yang optimal dalam
pembentukan watak, kepribadian dan akhlak mulia, adik-adik perlu
menambah dan meningkatkan wawasan serta pemahaman, antara lain dengan
mengikuti pendidikan nilai-nilai melalui Gerakan Pramuka.
Semoga upaya yang kita lakukan senantiasa mendapatkan ridho Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Jayalah Pramuka, dan Jayalah Indonesia.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Pramuka,
Jakarta, 14 Agustus 2010
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua,
Prof. Dr. dr. Azrul Azwar, MPH
APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan
menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut
prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita
bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa
sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak
pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan
panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua
partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita
menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor
itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga
tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa
kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk
memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai
panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di
ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan
ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara
tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda
salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia
untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan
kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati
manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap
yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
09 August 2010
Advertorial
Keluarga Besar SMA Negeri 1 Maniangpajo
Turut Berduka Cita
Atas Berpulangnya Kerahmatullah
Bapak Drs. Muhammad Jabir, M.Si.
(Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Maniangpajo)
Semoga arwah beliau diterima disisi Allah SWT,
dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan
Amin