TULISAN DALAM BLOG INI, JUGA DAPAT DIBACA DI:

24 January 2010

???

BENARKAH KITA MASIH TERJAJAH?

Orang-orang tua-tua kita yang ikut berjuang suatu ketika bilang kepada anak dan cucunya begini : Ketika Belanda, Portugis hingga Jepang menjajah negeri ini, sakitnya tidak begitu parah. Sebab apa, karena kita tahu musuh kita, sehingga segenap rakyat bahu membahu mengerahkan seluruh kemampunannya melawan perompak negeri serta tanah tumpah rakyat. Kalaupun kita tidak makan, tidak mengurusi rumah dan memikirkan masa depan anak-anak, bahkan lari ke gunung, ke hutan belantara itu memang keharusan kita menyelamatkan diri agar tidak mati konyol dibunuh penjajah.

Tapi sekarang kebalikkannya, setelah merdeka 64 tahun, penjajah berlainan warna kulit, raut wajah dan bentuk pisik sebenarnya telah hengkang. Tulang-belulangnya pun mungkin tak ditemukan lagi di dalam pusaranya, tapi rakyat tetap merasa masih dikekang dan terjajah oleh bangsa sendiri. Dan ini jauh lebih parah, sebab sebagian anak-anak negeri tidak bisa bersekolah dengan baik, akses kesehatan berbiaya mahal. Kesempatan kerja sangat kecil.

Apakah benar pemimpin kita menjajah bangsa atau rakyatnya sendiri? Lihat-lah kenyataan, atau fakta, rakyat miskin bertambah, pengangguran meningkat tajam. Dalam era digital dan teknologi ini penduduk buta huruf di jakarta saja tercatat hampir 300 ribu. Untuk akses kesehatan? ya tahu sendiri, bagaimana keluarga miskin ditolak bahkan bayinya disandera di RS karena tak punya duit. Dan saksikan-lah di RS pemerintah bagaimana rakyat jelata bergelimpangan dengan raut pucat memelas berharap pertolongan untuk bisa bertahan hidup!

Jadi apa kuncinya? Ya, kembali kepada pemimpin tegakkan undang-undang sehingga semua aparat yang menjalankan fungsi tapi tdk sesuai dapat ditindak, sebab merekalah yang menghambat program pengentasan kemiskinan, akses kesehatan maupun pendidikan. Kepala negara, para menteri sebenarnya cukup membaca koran dan menonton tv 2 jam setiap pagi. Di situ tergambar :

1. Masalah ketidakadilan bidang hukum
2. Masalah korupsi birokrasi
3. Masalah akses kesehatan warga miskin
4. Masalah penyimpangan pendidikan mulai tk SD s-d Perguruan tinggi
5. Masalah kesenjangan sosial
6. Masalah kriminalitas
7. Masalah Kucuran berbagai dana menyangkut Program Pemberdayaan masyarakat miskin
8. Masalah Penyelewangan diberbagai institusi Pemerintah
9. Masalah Suap-munyuap penerimaan PNS
10. Dan berpuluh dan beratus masalah pelayan publik yang tidak semestinya terjadi.

Pemimpin tidak harus menanyakan bukti, karena memang bukan wewenangnya, tapi dengan mengkonfirmasikan masalah dari berita tersebut sudah membuktikan kepeduliannya untuk menegakkan aturan. Dengan catatan tentu pejabat bersangkutan tidak terlibat. Kalau terlibat, ya seperti sekarang-lah jadinya. Benar kata orang tua kepada anak cucunya, bahwa sekarang kita masih terjajah!

19 January 2010

Info

Pesan ini penting banget bagi yang pake OS Windows dan konek ke internet.

Sebuah virus baru sudah ditemukan, dan digolongkan oleh Microsoft sebagai yang paling merusak! Virus itu baru ditemukan pada hari Minggu siang yang lalu oleh McAfee, dan belum ditemukan vaksin untuk mengalahkannya.

Virus ini merusak Zero dari Sektor Hard Disk yang menyimpan fungsi informasi-informasi terpenting.

Virus ini berjalan sebagai berikut : Secara otomatis virus ini akan terkirim ke semua nama dalam daftar alamat anda dengan judul : "Sebuah Kartu Untuk Anda" (Une Carte Pour Vous atau A Card For You)

Begitu kartu virtual itu terbuka, virus itu akan membekukan komputer sehingga penggunanya harus memulainya kembali; kalau anda menekan CTRL+ALT+DEL atau perintah untuk restart, virus itu akan merusak Zero dari Sektor Boot Hard Disk, sehingga hard disk akan rusak secara permanen.

Menurut CNN, virus itu dalam beberapa jam sudah menimbulkan kepanikan di New York . Peringatan ini telah diterima oleh pegawai Microsoft sendiri.

Jangan membuka e-mail dengan judul: "Sebuah Kartu Untuk Anda" (Une Carte Pour Vous atau A Card For You)

Kirimkan pesan ini kepada semua teman anda. Saya rasa bahwa sebagian besar orang, lebih suka mendapat peringatan ini 25 kali dari pada tidak sama

Mungkin Tidak Ada Kaitannya Tapi Hanya Ingin Berbagi...
semoga bermanfaat,

04 January 2010

28 December 2009

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."

-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya.

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara
materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan "EQ"),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa....

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu "The Art of The Deal
dan Surviving at the Top"
. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus...

Anda ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
"intangible asset" yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki pengalaman dan
pemahaman
bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara
mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.

    Latihan dan berani mencoba hal-hal baru
    akan memberikan beragam pengalaman dan
    membuka pikiran dengan berbagai
    kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam
    segala hal.


    Ini akan menjadi jalan untuk bisa
    mendapatkan kepercayaan orang lain dan
    mengendalikan kita untuk tidak mudah
    menyerah. "being accountable is being
    dependable"


3. Berani keluar dari zona nyaman.

    Mencoba keluar dari zona nyaman akan
    membuat kita bisa mengeksplorasi banyak
    hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba
    untuk menghadapinya.


    Melakukan hal ini akan membangun rasa
    percaya diri dan dapat menjadi jaminan
    bahwa segala sesuatu pasti ada
    solusinya.

5. Bersikap rendah hati.

    Mau mengakui kesalahan dalam hidup
    justru dapat meningkatkan harga diri
    kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi Anda!

Karena mengendalikan emosi merupakan
salah satu faktor penting yang bisa
mengendalikan Anda menuju sukses dan
juga menikmati warna-warni kehidupan. :-)

Massappa Werekkada